Sunday, February 24, 2013

Jenis - Jenis Motif Ukiran Melayu


Semua bangunan baik rumah adat maupun balai adat diberi hiasan terutama berupa ukiran. Di puncak atap selalu ada hiasan kayu yang mencuat keatas bersilangan dan biasanya hiasan ini diberi ukiran yang disebut Salembayung atau Sulobuyung yang mengandung makna pengakuan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Selasar dalam bahasa melayu disebut dengan Selaso. Selaso jatuh kembar sendiri bermakna rumah yang memiliki dua selasar (selaso, salaso) yang lantainya lebih rendah dari ruang tengah.
Corak Motif Kaluk Pakis untuk Ukir Tekat Tenun Songket
Corak Motif Kaluk Pakis (kaluk paku) untuk Ukir Tekat Tenun Songket merupakan gambaran pohon/tetumbuhan pakis/paku yang berkeluk-keluk atau
meliuk-liuk, tak hanya diperuntukkan bagi kerajinan tekat maupun tenunan dan sejenisnya. Motif Kaluk Pakis/Paku lazim pula dipakai untuk ukiran bangunan dan ukiran benda-benda lainnya. Semua corak motif melayu disepadukan dengan cermat sehingga kelihatan serasi dan saling mengisi.
Corak Motif Lebah Bergayut untuk Ukir Tekat Tenun Songket
Corak Motif Lebah Bergayut untuk Ukir Tekat Tenun Songketditempatkan pada bagian atas bidang ukir/tekat/tenun/songket. Motif Lebah Bergayut mencerminkan tentang rumah lebah madu yang biasanya menggantung di dahan pohon. Hal ini mengingat bumi Melayu Riau dahulunya sangat kaya akan pepohonan besar yang sebagian dijadikan tempat menggantungkan rumah lebah.
Corak Motif Itik Sekawan (Itik Pulang Petang) Ukir Tekat Tenun Songket
Corak Motif Itik Sekawan (Itik Pulang Petang) untuk Ukir Tekat Tenun Songket menggambarkan tingkah laku hewan Itik yang selalu berjalan beriringan ketika petang hari akan pulang ke kandang. Tingkah laku berjalan beriringan serasi, bersahabat, kompak, bersama-sama, menjadi contoh bagi manusia akan arti kehidupan. Hal ini pun lalu digambarkan dan menjadi suatu corak motif untuk tenun, tekat, ukir dan songket dengan nama Motif Itik Pulang Petang atau Motif Itik Sekawan.

Teban Layar atau Singap atau pun Bidai dipasang di bagian penutup segitiga (layar) atap pada jenis rumah bumbung panjang atau atap pelana yang terbuka di ujung depan dan di belakang. Bidai berfungsi juga sebagai lobang angin bawah atap agar terjadi sirkulasi udara di dalamnya sehingga dapat mengurangi panas. Pada rumah jenis atap limas, tidak menggunakan bidai.

Corak Pucuk Rebung adalah sejenis corak dan motif hias sebagai lambang kehidupan.
Pucuk Rebung muncul dalam gulungan wayang kulit dikenal sebagai pohon hayat yang melambangkan semangat kehidupan alam dan manusia.



Hiasan ini terdapat pada keempat sudut cucuran atap. Bentuknya hampir sama dengan selembayung. Setiap bangunan yang berselmbayung haruslah memakai sayap layangan sebagai padanannya. Letak sayap layang-layang pada empat sudut cucuran atap merupakan lambang sari empat pintu hakiki, yaitu pintu rizki, pintu hati, pintu budi, dan pintu Illahi. Sayap layang-layang juga merupakan lambang kebebasan, yaitu kebebasan yang tahu batas dan tahu diri.


No comments:

Post a Comment